Controleur
(Foto: KITLV, 1924)
dibaca normal 1 menit

[dropcap]RUANG[/dropcap] kerja Ferdinand digedor-gedor polisi. Waktu itu pukul sembilan pagi. Ferdinand baru saja sampai di kantor controelur, tempat ia bekerja. Ferdinand juga baru saja merapikan meja dan berkas-berkas yang ada di kantor. Segala alat dan bahan catat-mencatat sudah siap sedia. Dokumen-dokumen yang akan diperiksa pun sudah ada di atas meja. Gedoran-gedoran itu tidak menyenangkan Ferdinand. Apalagi, ia baru saja sampai di kantornya. Dan, tentu saja ini tidak seperti pagi-pagi biasanya.

“Anda Tuan Wiggers?” kata komandan yang memimpin satuan polisi itu.

“Betul,” jawab Ferdinand. Ia agak kaget dengan situasi yang tiba-tiba mencekam. Setidaknya ada lima petugas polisi. Empat petugas lengkap membawa senapan yang disampirkan di tangan sebelah kanan. Sementara, sang komandan hanya membawa pistol yang masih berada di sarungnya.

Komandan itu tak sempat melepaskan topi saat memasuki kantor Ferdinand. Ia hanya membawa selembar surat penangkapan yang langsung diserahkan kepada Ferdinand usai memastikan orang yang berada di depannya tidak salah. Empat bawahan komandan polisi berjaga di ambang pintu.

Ferdinand mengambil selembar surat itu. Matanya mulai meraba-raba isi surat. Sesekali Ferdinand menelan ludah. Ia melihat tanda tangan yang tertera di surat itu.

“Jadi, Anda sekalian ingin menangkapku?” tanya Ferdinand kepada komandan polisi sambil menghela napas.

“Benar, Tuan Wiggers,” jawabnya singkat dan padat.

“Korupsi?”

“Ya, seperti yang bisa Anda baca di surat itu.”

“Tapi, aku baru saja bekerja satu minggu di sini. Bagaimana bisa?”

Komandan polisi tersenyum. Ia kemudian mendekati meja Ferdinand, menggeser kursi, dan duduk. Tanpa kehilangan kewibawaannya, komandan polisi mendekat dan menyampaikan kata-kata yang akan selalu diingat Ferdinand.

“Tuan tahu kenapa Gubernemen menangkap Tuan?”

Baca Juga:  Nasi Goreng Instan dan Makaroni Panggang

Ferdinand masih tidak paham. Ia mencoba sedikit tenang.

“Sebagai seorang controleur kelas satu, darah dan pikiran Tuan terlalu inlander. Itu korupsi terbusuk dan bisa merendahkan martabat Gubernemen,” ujar komandan polisi sambil memilin kumis bapang.


Glosarium

  • Controleur: pejabat pemerintahan kolonial Hindia Belanda di bawah asisten residen, biasanya dijabat seorang indo maupun Belanda totok.
  • Inlander:  sebutan ejekan bagi penduduk asli di Indonesia oleh orang Belanda pada masa penjajahan Belanda.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here