Clara
dibaca normal 11 menit

IA MEMPUNYAI dada besar, kaki kecil, dan mata biru. Ya, begitulah aku sering mengingatnya. Aku tidak tahu kenapa aku jatuh cinta begitu hebat dengannya, tapi aku benar-benar mencintainya, dan sejak pertama kali, maksudku sejak hari pertama, jam pertama, semuanya terkesan baik-baik saja, lalu Clara kembali ke kota kelahirannya, di selatan Spanyol (saat itu Clara sedang berlibur di Barcelona), dan semuanya mulai berontokan.

Suatu malam aku bermimpi tentang malaikat: aku berjalan di bar yang besar dan kosong dan aku lihat ia duduk di sudut dengan siku di meja dan secangkir kopi susu di depannya.

“Ia adalah perempuan yang kau cintai sepanjang hidup,” kata seorang yang ada di bar, sambil melihat ke arahku. Dengan kekuatan tatapannya dan pijaran api di matanya itu, dia melemparkanku ke ujung ruangan. Aku mulai berteriak, “pelayan, pelayan,” lalu mataku terbuka dan kabur dari mimpi yang menyedihkan. Malam berikutnya, aku tidak memimpikan siapa pun, tapi aku bangun dengan air mata meleleh.

Sebenarnya, Clara dan aku masih berkirim surat. Suratnya pendek-pendek, seperti “Hai, apa kabar? Di sini hujan, Aku mencintaimu, dah. Mula-mula, surat-suratnya membuatku takut. Ini akan berakhir, pikirku. Meski begitu, setelah membaca berulang-ulang secara cermat, kesimpulanku, barangkali ia terlalu berhati-hati dalam menyusun kalimat, barangkali ia menghindari kesalahan tata bahasa. Clara bangga dengan itu. Ia memang tak bisa menulis dengan baik, tapi ia tidak ingin kelihatan, bahkan jika itu berarti menyakitiku dengan terlihat dingin.

Umurnya 18 tahun waktu itu. Ia keluar dari sekolah menengah dan belajar musik secara privat dan juga belajar menggambar pada seorang pensiunan pelukis pemandangan, namun ia sebenarnya tak begitu suka dengan musik. Lukisan? Ia menyukai, tapi tidak bisa membuatnya tergila-gila. Suatu hari, aku menerima surat, yang seperti biasa ditulis pendek-pendek. Ia memberitahu bahwa ia sedang ikut kontes kecantikan. Responsku, yang kutulis hingga 3 lebih kertas bolak-balik, kupuji kecantikan alami dalam dirinya, matanya yang indah, dan postur tubuh yang sempurna, dan lain-lain. Surat ini terlalu penuh pujian-pujian yang tak perlu alias buruk. Ketika aku menyelesaikannya, aku berpikir apakah surat ini akan kukirimkan atau tidak, namun akhirnya kukirimkan juga.

Beberapa minggu kemudian, aku baru menapatkan kabar darinya. Aku bisa saja meneleponnya, tapi aku tidak ingin mengganggunya, dan juga keuanganku sedang tidak sehat. Clara hanya juara kedua dalam kontes itu. Kekalahannya membuat dirinya depresi selama satu minggu. Anehnya, ia malah mengirimi aku telegram yang berbunyi,

“JUARA DUA. TITIK. KUTERIMA SURATMU. TITIK. DATANG DAN LIHAT AKU.”

Seminggu kemudian, aku naik kereta ke tempat ia tinggal, ya, tentu saja pada hari itu juga. Sebelum aku ke sana, setelah menerima telegram, kami sudah berbincang melalui telepon. Aku pun telah mendengar cerita tentang kontes kecantikan beberapa kali. Rupanya, kekalahan itu sangat memengaruhi Clara. Jadi, aku mengemas tasku dan, secepat yang kubisa, pergi ke stasiun. Keesokannya, pagi-pagi benar aku sudah bisa sampai di sana, di kota yang tak kukenal. Aku sampai di apartemen Clara pukul 9.30 setelah minum kopi di stasiun dan merokok beberapa batang untuk menghabiskan waktu. Perempuan gemuk dengan rambut berantakan membukakan pintu. Dan ketika aku bilang ingin bertemu Clara, dia menatapku seolah-olah aku seperti domba yang siap digiring ke penjagalan. Mereka terasa sangat lama sekali dan sepertinya mereka memikirkan sesuatu lama. Setelah itu aku menyadari memang seperti itulah mereka.

Hanya beberapa menit aku duduk dan menunggu Clara di ruang tamu, namun aku merasa mereka lama sekali. Ruang tamunya berantakan, tapi masih terkesan nyaman karena penuh dengan cahaya lampu. Ketika Clara masuk, ia tampak seperti dewi yang turun dari surga. Aku tahu ini adalah pemikiran yang bodoh—dan ini juga sesuatu yang bodoh untuk dikatakan—tapi begitulah ia.

Hari-hari berikutnya terasa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Kami menonton begitu banyak film, hampir tiap hari, kami bercinta. Aku adalah laki-laki pertama yang tidur dengannya, meski secara cepat atau menggelikan. Akhirnya itu membuat diriku semakin masuk ke kehidupannya. Kami berjalan-jalan, bertemu dengan teman-teman Clara. Kami pergi ke dua pesta yang mengerikan. Aku pun meminta padanya untuk tinggal bersamaku di Barcelona. Tentu saja, aku sudah tahu jawaban yang akan ia lontarkan. Setelah sebulan, aku pulang ke Barcelona dengan kereta yang sama.

Ia menjelaskan di dalam suratnya, surat terpanjang yang pernah ia tulis untukku, kenapa ia tidak ingin tinggal bersamaku. Ternyata, aku membuatnya sangat tertekan dengan mengajaknya tinggal bersama. Semua telah selesai. Setelah itu, kami hanya bicara tiga atau empat kali di telepon. Aku juga menuliskan surat untuknya penuh dengan ungkapan-ungkapan cinta. Suatu saat, ketika aku sedang berlibur di Maroko, aku meneleponnya dari hotel di Algeciras, dan saat itu kami memperbincangkan hal-hal lebih dewasa. Setidaknya, ia merasa percakapan itu lebih dewasa. Atau, aku yang berpikiran demikian.

Setahun berlalu, Clara bercerita kepadaku tentang bagian hidupnya yang tak kuketahui. Lalu, setahun berikutnya, baik ia maupun teman-temannya menceritakan kehidupannya lagi, dari awal, atau dari cerita yang kami lewatkan. Ya, aku juga mempunyai kekurangan tentang kehidupanku. Ini tidak berbeda dengan mereka. Sungguh, meski tidak mudah bagiku untuk mengakuinya. Bisa ditebak, tidak lama setelah putusnya pertunangan kami (aku tahu “pertunangan” terlalu hiperbolis, tapi kata itu yang terbaik yang bisa kutemukan) Clara menikah, dan laki-laki yang beruntung itu adalah salah satu temannya yang pernah kutemui di kotanya. Cukup logis sekali kenapa ia memilih temannya.

Namun, sebelum pernikahan itu, ia mempunyai masalah psikologis. Selama sebulan, dia sering bermimpi tentang tikus. Malam hari ia sering mendengar tikus-tikus di kamar tidurnya. Sebulan sebelum pernikahannya itu, ia tidur di sofa di ruang tamu. Kurasa, setelah menikah, tikus-tikus berengsek itu menghilang.

Baca Juga:  Menyerahlah - Franz Kafka

Ya, Clara sudah menikah. Dan, suaminya, suami tercintanya, mengejutkan semua orang, bahkan dirinya sendiri. Setelah satu atau dua tahun, aku tidak yakin, betul-betul tidak yakin—Clara menceritakan kepadaku, tapi aku lupa—mereka berpisah. Bukan perpisahan baik-baik. Suaminya berteriak, Clara berteriak. Ia menamparnya, suaminya balik memukulnya sampai rahangnya bergeser. Terkadang, ketika aku sendirian, tak bisa tidur, dan belum merasa harus mematikan lampu, aku kepikiran Clara. Ah, Clara yang mendapatkan juara dua dalam kontes kecantikan, Clara yang rahangnya hampir terlepas dan tak bisa dikembalikan seperti semula, Clara yang melaju menuju rumah sakit terdekat dengan tangan satu di setir dan tangan lainnya menyangga rahangnya. Aku bisa saja merasa itu lucu, tapi ternyata tidak bisa.

Yang membuatku terpingkal justru jika aku membayangkan malam pertamanya. Ia baru saja menjalani operasi wasir sehari sebelum malam pertama. Ia akan sedikit grogi. Atau mungkin saja tidak. Aku tak pernah bertanya padanya apakah dia bisa bercinta dengan suaminya. Aku rasa mereka sudah melakukannya sebelum operasi itu. Lagi pula, apa pentingnya itu? Semua detail ini lebih banyak menceritakan tentang diriku daripada yang mereka lakukan untuknya.

Pada akhirnya, Clara berpisah dengan suaminya setahun atau dua tahun setelah pernikahan dan mulai sekolah lagi. Ia tak bisa melanjutkan ke universitas karena ia belum menuntaskan SMA-nya. Tapi, ia tetap mencoba apa pun: fotografi, melukis lagi (aku tidak tahu kenapa, tapi ia selalu bilang ia bisa menjadi pelukis besar), musik, mengetik, dan sebagainya. Semua kursus diploma selama setahun yang memungkinkan, ia ambil. Ya, semua kursus pendek untuk mendapatkan pekerjaan. Bagi gadis muda seperti dirinya, masa-masa itu bisa membuatnya depresi. Bisa membuatnya melompat atau terperosok jatuh. Meski Clara terlihat bahagia karena berpisah dengan suaminya yang ringan tangan, dari lubuk hatinya, dia sebenarnya sangat depresi.

Tikus-tikus itu kembali lagi dan begitu pula dengan penyakit itu. Selama dua atau tiga tahun dia dirawat karena mag. Sampai akhirnya dokter menyadari ada yang bermasalah, setidaknya bukan di perutnya.

Saat-saat itu, ia pun bertemu dengan Luis, seorang eksekutif. Mereka saling mencintai. Dia menyarankan Clara untuk belajar administrasi bisnis. Menurut temannya, kini Clara telah menemukan cinta terakhirnya dalam hidupnya. Mereka pun tinggal bersama; Clara mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor firma hukum atau semacam agensi. Pekerjaan yang menyenangkan, katanya, tanpa sedikit pun memperlihatkan ironi. Kehidupannya seperti kembali ke jalur yang benar, untuk yang terbaik kali ini. Luis adalah laki-laki yang sensitif, ia sama sekali tak pernah memukulnya. Seleranya tinggi, aku yakin dia salah satu dari 2 juta orang Spanyol yang membeli karya lengkap Mozart dalam koleksi pribadinya. Dia sabar juga. Dia mendengarkan, dia mendengarkan setiap malam, bahkan setiap akhir pekan. Clara belum pernah mengatakan tentang kehidupannya dengan Luis. Namun, dia tidak pernah lelah menceritakan soal lain. Ia tak lagi mengkhawatirkan kontes kecantikan lagi, meski ia melakukannya untuk membuat dirinya semangat dari waktu ke waktu. Sekarang ini, ia sering bercerita tentang periode depresinya, ketidakstabilan psikologisnya, dan lanskap yang ingin ia lukis tapi takkan pernah bisa.

Aku tak pernah tahu kenapa mereka belum mempunyai anak. Barangkali mereka tidak punya waktu, meski, menurut Clara, Luis sangat menyukai anak-anak. Ia menggunakan waktunya untuk belajar dan mendengarkan musik (Mozart, juga komposer lain) atau memotret yang hasilnya tak pernah ia perlihatkan sama siapa pun. Dengan caranya yang kabur dan tidak jelas, ia mencoba membela kebebasannya dan mencoba belajar.

Umur 31, ia tidur dengan salah satu laki-laki di kantornya. Itu hanya sesuatu yang tiba-tiba terjadi, bukan soal yang besar, setidaknya bagi mereka berdua. Namun, Clara membuat kesalahan, ia menceritakannya kepada Luis. Pertengkaran terjadi. Luis membanting kursi atau lukisan yang baru ia beli, mabuk, dan tidak berbicara padanya selama sebulan. Menurut Clara, sejak hari itu, tidak ada lagi yang sama, terlepas dari upaya rujuk kembali, terlepas dari perjalanannya ke kota di tepi pantai, perjalanan yang membosankan dan menyedihkan, seperti yang sudah dibayangkan.

Sekarang, ia sudah 32 tahun, kehidupan seksualnya hampir punah. Pendeknya, sebelum ia beranjak 33, Luis berkata padanya dia mencintainya, dia menghormatinya, dia takkan pernah melupakannya. Namun, baru beberapa bulan, Luis tertarik dengan salah satu perempuan di tempat kerjanya: janda beranak satu, cantik, dan perempuan penuh pengertian. Luis berencana untuk tinggal bersamanya.

Clara menerima perpisahan itu dengan baik-baik. Sejauh yang kuingat, ini pertama kalinya seseorang meninggalkannya. Namun, beberapa bulan kemudian, ia kembali tenggelam dalam depresi dan harus berhenti bekerja beberapa lama dan menjalani terapi di bawah pengawasan dokter psikiatri yang tidak begitu membantu. Ia diberi obat yang mengendalikan hasrat seksualnya. Meski ia mencoba bercinta dengan beberapa laki-laki untuk memuaskan keinginannya, toh ia tak terpuaskan sama sekali, termasuk denganku. Ia mulai berbicara tentang tikus-tikus lagi. Tikus-tikus itu tidak akan membiarkan dirinya sendirian. Ketika dia gugup, ia akan sering pergi ke toilet. (Pertama kali kami tidur bersama, ia bahkan ke toilet 10 kali).

Ia bercerita tentang dirinya. Ia pernah sekali bercerita padaku bahwa ada tiga Clara di dalam dirinya: seorang gadis kecil, seorang nenek tua yang diperbudak keluarganya, dan perempuan muda. Clara sesungguhnya, menurutnya, adalah seorang perempuan muda yang selalu ingin berkeliling kota selamanya, yang ingin melukis dan memotret, jalan-jalan, dan hidup. Setelah beberapa hari kami bersama lagi, aku mulai sangat khawatir dengan kehidupannya. Terkadang, aku bahkan tidak ingin pergi berbelanja karena aku takut ketika aku kembali, aku akan menemukan ia meninggal. Setelah hari demi hari, ketakutanku mulai lenyap dan aku sadar atau barangkali meyakinkan diriku sendiri bahwa Clara tidak akan bunuh diri. Ia tidak akan terjun dari balkon apartemennya—ia takkan melakukan apa pun.

Baca Juga:  Tempat Tinggal – Margaret Atwood

Setelah itu, aku meninggalkannya, tapi kali ini aku memutuskan untuk meneleponnya setiap saat dan berhubungan dengan temannya, yang bisa membawaku masuk kembali ke kehidupan Clara. Itulah bagaimana aku bisa tahu sedikit dan mungkin lebih mudah untuk tidak mengetahui cerita yang membuatku tidak tenang, berita-berita egois harus selalu dikesampingkan.

Clara kembali bekerja (obat-obatan baru yang ia minum membuatnya kembali terlihat segar). Pihak kantornya barangkali ingin memberinya tugas untuk membayar ketidakhadirannya yang cukup lama. Ia pun dipindahkan ke kantor cabang di kota Andalusia lain, meski tak begitu jauh. Ia pindah, mulai kembali pergi ke gym (umur 34, ia tidak lagi terlihat cantik seperti yang pernah kukenal ketika aku berumur 17), dan mencari teman baru. Begitulah ia bertemu dengan Paco, yang juga sudah bercerai, seperti dirinya.

Belum lama ini, mereka menikah. Mula-mula, Paco ingin mengatakan ke semua orang tentang impresinya terhadap karya foto dan lukisan Clara. Dan, Clara berpikir Paco pintar dan mempunyai selera bagus. Waktu berlalu, Paco akhirnya kehilangan ketertarikan pada pencapaian estetika Clara dan menginginkan anak. Clara sudah 35 tahun dan ini pertama kalinya ia tak tertarik lagi dengan ide itu. Tapi, Clara toh memberikan Paco anak juga. Mereka memiliki satu anak. Menurut Clara, anaknya senang dengan kerinduan yang ia berikan—kata itulah yang ia gunakan. Menurut temannya, ia semakin memburuk, apa pun artinya.

Pada satu kesempatan, untuk alasan yang tak relevan bagi cerita ini, aku menghabiskan satu malam di kota Clara. Aku meneleponnya dari hotel, memberitahu di mana aku berada, dan mengajak dia bertemu pada hari berikutnya. Aku lebih suka bertemu dengannya pada malam hari. Namun, setelah pertemuan dengannya sebelumnya, Clara menganggapku semacam musuh. Barangkali ia punya alasan yang masuk akal. Aku tidak bersikeras memaksanya bertemu malam hari.

Ia hampir saja tak kukenali. Berat badannya bertambah, dan tanpa riasan, wajahnya begitu pucat, bukan karena waktu melainkan frustasi. Dan jika kamu tidak menginginkan apa pun, bagaimana kamu bisa frustrasi? Senyumannya pun juga sudah berubah. Sebelumnya, senyumannya hangat dan terlihat lugu, senyuman perempuan muda dari ibu kota provinsi. Sekarang, senyumnya terlihat licik, menyakitkan, serta mudah sekali menyimpan kebencian, amarah, dan iri hati . Kami saling mencium pipi seperti pasangan idiot dan duduk. Untuk beberapa saat kami terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Akulah yang pertama kali memecah kesunyian. Aku bertanya tentang anaknya; ia mengatakan anaknya sedang di penitipan anak, lalu dia menanyakan anakku.

“Dia baik,” kataku.

Kami menyadari, jika kami tidak melakukan sesuatu, pertemuan ini akan terasa menyakitkan.

“Bagaimana penampilanku?” Clara bertanya. Seolah-olah ia memintaku untuk menamparnya. Sama seperti biasanya, kujawab otomatis. Aku ingat kami sedang minum kopi, lalu jalan-jalan di sepanjang lajur yang di kanan-kirinya dipenuhi pohonan yang mengarah langsung ke stasiun. Keretaku segera berangkat. Kami mengucapkan perpisahan di depan pintu stasiun, dan itu terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

Kami berbincang di telepon sebelum ia meninggal. Aku selalu meneleponnya setiap tiga atau empat bulan. Aku telah belajar dari pengalaman untuk tidak terlalu menyentuh urusan-urusan personal atau keintiman (misal, seperti obrolan tentang olahraga ketika berbincang dengan orang asing di bar), jadi kami berbincang tentang keluarganya atau tentang sekolah anaknya. Perbincangan itu serasa abstrak seperti puisi kubisme. Ia masih kerja di kantor yang sama, dan selama bertahun-tahun, ia mengetahui semua rahasia rekan kerjanya dan kehidupannya, semua masalah para eksekutif. Semua rahasia-rahasia itu membuatnya makin bersemangat dan barangkali menimbulkan kesenangan tersendiri. Suatu kali, aku mencoba menanyakan padanya tentang suaminya, tapi ia bungkam.

“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik,” kataku.

“Itu aneh,” jawabnya.

“Aneh bagaimana?” tanyaku lagi.

“Aneh sekali. Kamu berkata sama seperti orang lain,” katanya.

Aku secepatnya mengubah topik pembicaraan, mengaku jika koinku akan habis (aku tak mempunyai telepon, dan takkan pernah ingin punya telepon—aku selalu menelepon di telepon umum), cepat-cepat mengucapkan selamat tinggal, dan menutup telepon. Aku sadar aku tidak bisa beradu argumen dengan Clara. Aku tidak bisa mendengarkan alasan lain darinya, yang selalu digunakan sebagai pembenaran tanpa ujung.

Suatu malam, belum berselang lama, ia mengatakan padaku, ia mengidap kanker. Suaranya masih terdengar dingin seperti biasanya—suara yang selalu menceritakan kehidupannya dengan nada pencerita yang buruk, menempatkan tanda seru pada tempat yang salah, dan terlalu sering berlama-lama pada sesuatu yang seharusnya dilewati, bagian yang seharusnya ia potong cepat-cepat. Aku ingat pernah menanyakan padanya, apakah diagnosis kanker itu dari dokter atau dia sendiri yang mendiagnosis (atau dengan bantuan Paco). Tentu saja, ia tak menjawab. Di ujung kalimatnya seperti terdengar suara parau. Ia tertawa. Kami berbincang sebentar tentang anak-anak kami, lalu (ia pasti merasa kesepian atau bosan) dia memintaku menceritakan sesuatu tentang kehidupanku. Aku bilang sedang mengerjakan sesuatu, aku akan meneleponnya lagi minggu berikutnya.

Malamnya, tidurku tak menyenangkan. Aku bermimpi berulang-ulang dan terbangun tiba-tiba, berteriak, yakin bahwa Clara berbohong padaku dan sebenarnya ia tak mengidap kanker. Sesuatu terjadi pada dirinya, tentu saja, sesuatu telah terjadi selama 20 tahun ini, kecil, kekacauan, penuh kebohongan dan senyuman, namun ia tak mengidap kanker. Pukul 5 pagi. Aku terbangun dan berjalan ke Paseo Maritimo, dengan angin menabrak-nabrak punggungku. Angin aneh karena biasanya angin berembus dari arah laut, dan susah sekali berembus dari arah berlawanan. Aku tidak berhenti sampai aku sampai di telepon umum di sebelah kafe terbesar di Paseo. Terasnya kosong, kursi-kursi terantai dengan meja. Agak jauh dari situ, di dekat laut, pemuda gelandangan tidur di kursi, dengan lutut ditarik ke atas, dan dia bergidik setiap saat, seperti dia sedang bermimpi buruk.

Baca Juga:  Hikayat La Florida - Laila Lalami

Hanya ada satu nomor lain yang tersimpan dalam buku teleponku di kota Clara. Aku meneleponnya. Setelah sekian lama, suara perempuan menjawab. Aku menyebutkan namaku, namun tiba-tiba aku tak bisa berkata apa pun. Aku pikir dia menutup telepon, tapi aku mendengar “klik” korek api dan suara asap berembus dari bibir terdengar.

“Masih di sana?” Perempuan itu bertanya.

“Ya,” kataku,

“Sudah pernah berbicara dengan Clara?”

“Ya.”

“Apa dia bilang padamu, dia mengidap kanker?”

“Ya.”

Well, itu benar.”

Semua kenangan bertahun-tahun sejak aku pertama kali bertemu dengan Clara tiba-tiba berhamburan di kepalaku. Hampir sepanjang hidupku, sebagian besar, memang tidak berhubungan dengannya. Aku tidak tahu apa-apa lagi yang dikatakan perempuan di ujung telepon, yang berjarak ratusan mil jauhnya. Aku merasa air mataku mulai meleleh, seperti dalam puisi Ruben Dario. Aku meraba-raba saku, mengambil rokok, mendengarkan fragmen demi fragmen cerita: dokter, operasi, mastektomi, diskusi, perbedaan sudut pandang, rembukan, aktivitas Clara yang tak kuketahui atau sentuh atau bantu, tidak sekarang. Seorang Clara yang tak bisa kuselamatkan sekarang.

Ketika aku menutup telepon, gelandangan itu berdiri kira-kira lima kaki. Aku tidak mendengar dia mendekat. Dia sangat tinggi, mengenakan baju tebal yang terlalu panas untuk musim ini. Dia menatapku, seperti seolah-olah dia rabun, atau khawatir jika aku tiba-tiba bergerak. Aku terlalu sedih. Aku sama sekali tidak takut, meski setelah itu, aku kembali berjalan melewati jalanan di pusat kota. Aku baru sadar, bertemu dengan gelandangan itu, aku jadi lupa dengan Clara, hanya sebentar, untuk pertama kalinya, dan hanya saat itu saja.

Kami sering berbicara di telepon setelah itu. Beberapa minggu aku meneleponnya dua kali sehari. Perbincangan kami pendek dan bodoh. Aku tidak tahu cara untuk mengatakan apa yang benar-benar ingin kukatakan, jadi aku berbicara tentang apa saja, sesuatu yang pertama kali terlintas di kepalaku, kadang nonsense, aku harap aku bisa membuatnya tersenyum. Suatu kali, aku merasa sentimental dan mencoba memanggil hari-hari yang telah berlalu, tapi Clara justru mengenakan jubah es, dan aku pun sadar dan menyerah untuk bernostalgia. Mendekati hari operasi, aku lebih sering menelepon. Pernah aku berbicara dengan anaknya. Lain waktu dengan Paco. Mereka tampak sehat, suara mereka baik, setidaknya tidak setegang diriku. Barangkali aku salah. Sungguh-sungguh salah.

“Semua orang justru khawatir padaku,” kata Clara, suatu siang.

Aku rasa yang ia maksud suami dan anaknya, namun “semua orang” terdiri dari lebih banyak orang, lebih dari yang bisa kubayangkan, semua orang. Hari sebelum ia pergi ke rumah sakit, aku menelepon siang hari. Paco menjawab. Clara tidak di rumah. Tidak ada orang yang melihatnya atau mendengarnya dalam dua hari ini. Dari nada suara Paco, aku merasa dia menuduhku bahwa Clara ada di tempatku. Aku katakan saja langsung, ia tak di sini, namun malam itu aku berharap ia datang ke apartemenku. Aku menunggunya, lampu menyala, dan akhirnya aku tertidur di sofa, dan bermimpi tentang perempuan cantik, bukan Clara: tinggi, kurus, dengan dada kecil, kaki panjang, mata cokelat gelap, yang bukan dan tidak mungkin Clara. Perempuan yang kehadirannya melenyapkan sosok Clara, menyurutkan dirinya menjadi sosok perempuan empat puluhan yang lemah, hilang, dan gemetaran.

Ia tak datang ke apartemenku.

Besoknya, aku menelepon Paco. Dan dua hari kemudian, aku meneleponnya lagi. Masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Clara. Ketiga kalinya aku menelepon Paco, dia berbicara tentang anaknya dan mengeluhkan sikap Clara.

“Setiap malam aku bertanya-tanya di manakah dia”, katanya. Dari nada dan arah perbincangannya, aku bisa katakan apa yang dia butuhkan diriku, atau seseorang, siapa pun adalah pertemanan. Sayangnya, aku juga sedang tidak dalam kondisi memberikan penghiburan semacam itu.

Roberto Bolano lahir di Santiago, Cili, pada 1939 dan meninggal 15 Juli 2003. Sebagian masa mudanya, ia habiskan dengan berkeliling Amerika Latin, seperti Meksiko dan El Salvador. Ia memutuskan menetap di Barcelona, Spanyol pada 1977 dan menikahi gadis Mediterania. Selain sebagai pengarang prosa, Bolano juga menulis puisi dan esai. Namun, namanya lebih sohor sebagai prosais ketimbang pemuisi atau esais. Beberapa novel terbaiknya antara lain The Savage Detectives, By Night in Chile, dan 2666. Hampir semua puisinya dihimpun dan diterbitkan dalam buku The Romantic Dogs, tiga tahun setelah kematian Bolano. “Clara” merekam satu episode hidupnya di Barcelona. Cerpen ini dimuat di majalah The Newyorker pada 4 Agustus 2008.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here