By The RIver Piedra
In The River | Pinterest
dibaca normal 2 menit

 

But love is always new. Regardless of whether we love once, twice, or a dozen times in our life, we always face a brand-new situation. Love can consign us to hell or to paradise, but it always takes us somewhere. We simply have to accept it, because it is what nourishes our existence. If we reject it, we die of hunger, because we lack the courage to stretch out a hand and pluck the fruit from the branches of the tree of life. We have to take love where we find it, even if that means hours, days, weeks of disappointment and sadness. The moment we begin to seek love, love begins to seek us. And to save us.

― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept

By the River Piedra I Sat Down and Wept adalah salah satu buku yang bisa saya selesaikan dalam waktu singkat. Bukan karena jumlah halamannya yang tak terlalu banyak; buku ini adalah tipe buku yang bisa saya nikmati sambil menyeruput es limun di siang hari hingga rasanya tidak seperti sedang membaca. Tulisan Coelho dalam buku ini begitu segar, mengalir, dan ringan, walau tema yang diusung terkait dengan hal ilahiah. Dan, inilah kelebihan Coelho; ia bisa menyampaikan sesuatu yang “mendalam” seperti spiritualitas, dengan bahasa yang sederhana dan tidak mengawang.

Dalam buku ini, tokoh aku yang bernama Pilar digambarkan begitu mencintai teman masa kecilnyayang di tahun-tahun berikutnya menjelma lelaki andalan dan dianggap calon imam. Pertemuan pertama mereka setelah sekian lama berpisah seolah menyalakan kembali kobaran api yang telah lama mati di dalam jiwa Pilar. Ia tak pernah merasa sehidup itudengan pemikiran tentang spiritualitas yang benar-benar baru, juga cinta yang berbeda dari yang pernah ia rasakandan mulai berpikir untuk mengubur kehidupan lamanya dalam-dalam.

Baca Juga:  Jika Difilmkan, Keluarga Gerilya Bisa Saja Meraih Oscar

Pilar tak lagi ingin menjalani hidup yang seolah-olah menggunakan manual dan serempak dilakukan oleh orang kebanyakan; menjadi pegawai negeri, menikah dengan orang yang tak ia cinta, dan menganut agama yang bahkan tak ia yakini.

Perempuan itu lalu memilih pergi bersama sang calon imam, mulai berhenti menjadi “gunung”, dan menjelma “sungai” yang terus mengalir. Nah, saya suka analogi yang diciptakan Coelho ini; bagaimana ia menggambarkan manusia seperti alam. “Gunung” ia gunakan untuk menjelaskan orang-orang yang sudah ada sejak zaman purba, namun takdirnya hanya menjadi penonton, tidak bisa melakukan apa-apa, juga pasrah pada nasibnya. Sementara, “sungai” adalah orang-orang yang “mengalir”, bergerak, dan melakukan sesuatu. Dan, buku ini bisa dengan apik menggambarkan transformasi Pilar, dari “gunung” yang pasrah, menjadi “sungai” yang mengalir.

Pilihan Pilar bukanlah pilihan yang mudah. Pilihan ini menumbuhkan dilema yang baru bagi sang lelaki; keinginannya untuk terus mengabdikan diri demi umat manusia mulai goyah dengan kehadiran cinta yang ia anggap egosentris. Dilema yang dibangun pun cukup menimbulkan kompleksitas tersendiri; cinta universal/spiritual versus cinta personal. Namun, pada akhirnya, dua manusia yang saling mencintai ini pun sadar bahwa keduanya bukanlah sesuatu yang berbeda dan terpisah.

Menurut saya, Coelho ingin berpesan bahwa dengan mencintai seseorang, kita turut pula membubuhkan cinta pada semesta, juga pada Tuhan. Cintadalam bentuk apa pun, entah itu cinta untuk seseorang, Tuhan, atau seluruh umat manusiabersifat universal. Kita bisa berbicara dengan bahasa yang berbeda, mengenakan pakaian beragam, juga mendaraskan doa-doa yang berlainan. Tapi, ada satu roh yang sama dan kita sampaikan dengan cara bermacam-macam: cinta.

Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Barangkali karena saya suka cerita cinta yang sederhana dan ada hubungannya dengan spiritualitas, atau karena ada beberapa bagian dalam buku yang berkaitan langsung dengan hidup saya. Berkat buku ini, saya juga mulai membaca beberapa buku Coelho yang lain.

Baca Juga:  Menyusun Kepingan Namaku Merah

Judul                : By the River Piedra I Sat Down and Wept (Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis)

Pengarang      : Paulo Coelho

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 228 halaman

Harga             : Rp33.000 (versi digital)

Nilai Books and Groove: 4/5

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here