dibaca normal 6 menit

Kelanjutan dari Nyanyian Paus

AKU MERASA pernikahan tak terlalu mengubah apa-apa dalam hidupku. Sepertinya, banyak orang yang terlalu berlebihan mengelu-elukan pernikahan, seakan itu bisa membuat yang sial jadi penuh mujur, yang miskin jadi kaya, yang bodoh jadi pintar, masalah hidup langsung lenyap, padahal kenyataannya begini-begini saja. Aku masih harus berjuang untuk hidup, kondisi keuangan masih sama—tapi paling tidak, kini aku tak bangun dan mendapati aku sendirian. Setidaknya juga, aku tahu ada seseorang yang mau mendampingiku seumur hidup dengan neurotisismeku yang tinggi, dan itu sudah lebih dari cukup.

Memiliki pasangan yang menemani hari-hari kita memang menyenangkan, tapi aku harus bilang, pernikahan tak menjanjikan mimpi manis seperti di film atau novel. Hidup kita akan tetap biasa, tak lantas menjadikan segalanya spesial. Tapi untuk apa pula menjadi spesial? Mengapa banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi spesial? Kita seolah menghindari kenyataan bahwa hampir semua manusia sama: depresif, kesepian, dan penuh kecemasan; menutupinya dengan perasaan superior, bahwa kita pantas diperhitungkan, bahwa kita lebih unggul dalam segala hal, bahwa kita satu-satunya yang menderita di dunia, atau bahwa hanya kita yang bisa mengubah dunia jadi lebih baik. Ah, lagi-lagi, aku harus memikirkan hal-hal yang tak perlu, sementara ada hal lain yang patut kupikirkan: cicilan rumah lima belas tahun ke depan.

Kupikir-pikir ini konyol, ada hal yang, akhirnya, kulakukan tanpa berpikir panjang: menikah. Keputusan ini membuatku ingat pada teman lama yang kini entah di mana, Luna. Perempuan yang bisa saja tiba-tiba pergi ke hutan hujan tropis, menjadi relawan penyelamat orang utan, kemudian menetap di sana dan tinggal di rumah pohon; perempuan yang merasa tak butuh payung sebab tak takut hujan; perempuan yang tak bisa diprediksi dan itu membuatku iri. Bagaimana bisa ia dengan mudahnya melakukan ini dan itu tanpa berpikir panjang? Apakah ia tak pernah merasa takut? Apa hidup baginya hanya main-main saja?

SUDAH BEBERAPA hari ini aku melihat bulan kuning saat pulang kantor, kadang penuh, kadang tertutup awan. Bulan. Luna. Aku merasa Tuhan sedang mengolokku, sebab belakangan ini aku teringat dengannya, dan merasa semakin dihantui. Apakah ini pertanda aku harus menemuinya? Tapi, untuk apa pula? Aku mencintai istriku dan semakin yakin bahwa perasaanku pada Luna dulu hanya rasa suka kekanakan. Barangkali ada yang belum selesai, sebab tanpa satu dua patah kata, ia lenyap dari hidupku. Barangkali juga aku hanya rindu sahabat lama.

BULAN KUNING muncul lagi saat aku tengah di peron, menunggu kereta komuter datang. Di hadapanku, ada tembok tingginya kira-kira satu meter, juga deretan pohon yang mengingatkan pada Four Trees karya Egon Schiele. Lucu kalau membayangkan bertahun sebelumnya, aku berdiri di tempat yang sama, dan di sebelahku, perempuan kecil bercerita tentang mitologi Romawi yang tak kupahami. Aku masih ingat, ia bilang suatu hari ia akan mengunjungi patung Dewi Luna di Chiaramonti, dan kuaminkan saja supaya ia senang.

Baca Juga:  Di Dalam Hatinya, Sebuah Lagu Tak Sengaja Berputar

Aku bergidik membayangkan betapa orang senang meromantisasi hal-hal macam ini, kemudian melabelnya dengan, misalnya saja “cinta platonis” atau “belahan jiwa”, hanya untuk menghibur diri agar tidak sedih. Orang seharusnya belajar untuk lebih realistis; film-film harus berhenti mendewakan cinta tak berbalas juga menjual delusi-delusi. Kita harus belajar menerima penolakan, kegagalan, dan kadang-kadang hidup memang penuh kesialan. Toh bumi masih akan berputar dan musim tetap bergulir.

Kereta tiba, dan aku menunggu pintu dibuka. Aku tahu ini hanya sebatas rindu pada sahabat lama; tak seharusnya aku memaknainya berlebihan.

AKU MENCINTAI istriku dan aku tahu ia adalah orang yang tepat. Ia mengimbangiku yang mudah cemas, dan begitu sederhana. Berangkat ke toko bunga pukul delapan tiga puluh, pukul empat sore sudah di rumah dan membaca Tolkien, kadang-kadang membuat eksperimen di dapur yang menghasilkan gnocchi berbau masam dan ayam panggang setengah hangus. Lalu, sebelum tidur, ia meditasi di teras depan rumah, dengan lampu yang sengaja dimatikan supaya semakin khusyuk. Di mata istriku, dunia seperti taman bermain yang menyenangkan; ia percaya orang paling jahat sedunia sekalipun punya sisi baik, mereka hanya butuh sedikit kasih sayang.

Kami kadang bertengkar, terutama karena di matanya aku sering membuat rumit hal-hal yang sederhana. Kami bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk menentukan bagaimana seharusnya menghabiskan libur tahun baru; ia ingin jalan-jalan saja ke museum, kemudian pulang dan membaca buku bersama, sementara aku ingin merencanakan liburan ke luar kota. Menurutnya, aku membuatnya berkali-kali lipat lebih rumit, dan ia amat membenci segala kerumitan. Lagi-lagi, ini malah mengingatkanku pada Luna.

Luna juga jengkel pada kerumitanku sebab aku jadi tak berani mengejar mimpiku. Kendati begitu, kalau kupikir-pikir, ia adalah satu-satunya orang yang mendukungku menulis. Kerumitanku butuh wadah, katanya suatu hari. Ia berpikir, karakterku yang detail dan gemar memperhitungkan banyak hal adalah modal besar untuk jadi penulis andal. Omong-omong, kenapa aku terus mengingat perempuan itu?

“Akhir-akhir ini kau sering melamun.” Sera menggeser bangku kayu yang sengaja tidak dicat agar kelihatan lebih bersenikatanya, dan duduk berhadapan denganku. Di atas meja berbentuk lingkaran yang juga tak dicat, ada sekitar empat roti di atas piring, termasuk roti yang belum kuhabiskan, juga segelas susu yang masih tersisa setengah. Kini, ia ikut-ikutan memandang ke jendela tipe jalousie di sebelah kami. Minggu pagi yang sempurna.

“Hmm, menurutmu apa seharusnya aku jadi penulis?”

Sera mengangkat bahu. “Entahlah,” ujarnya sambil menopang dagu, “Aku tidak tahu apakah itu hal yang benar-benar kau inginkan. Kalau iya, kejarlah. Kalau tidak, ya tidak masalah.”

“Kau tidak mau mendorongku menggapai impian?” Aku masih menatap jendela.

“Kau sudah dewasa. Kenapa harus tergantung pada orang lain untuk mengejar mimpi? Aku tahu aku istrimu, tapi kehidupanmu tetap milikmu.”

Aku tak kaget dengan jawaban istriku. Ia memang perempuan yang mandiri, idealis, dan tak suka sesuatu yang dipaksakan. Maka ia pun membebaskanku melakukan apa yang aku mau—walaupun dalam lubuk hati terdalam, aku mendambakan seseorang yang bisa menyulut semangatku. Seperti Luna.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 2, Selesai)

“Ada orang yang ingin kukenalkan padamu,” kataku.

“Siapa?”

“Seseorang. Yang juga menyukai ‘Clair de Lune’, sepertimu.”

“Simpananmu?”

“Siapa tahu.” Aku mengangkat bahu.

Kami menghabiskan menit-menit selanjutnya dengan tawa dan candaan-candaan aneh. Bersama Sera, sepertinya aku tak akan pernah tua. Dan, ini adalah satu dari sekian banyak hal yang, aku tahu, patut kuapresiasi dalam hidup.

PURITIP SURIYAPATARAPUN. Kalau Luna ada di sini, ia pasti akan suka—walau entah bagaimana aku merasa ia memang akan datang ke pameran ini, dan kalau memang benar, aku memutuskan untuk jujur. Kejujuranku kini takkan bermakna apa-apa, sebab itu terjadi di masa lampau, dan aku melakukannya demi kelegaan jiwa semata. Aku sudah meminta izin pada Sera, dan seperti yang sudah kuprediksi, ia mengizinkannya. Ia justru kelihatan berapi-api dan menggodaku. Kalau aku sedikit lebih pintar, mungkin sekarang Luna-lah yang menemani hari-hariku, katanya. Bagaimanapun, aku tak menyesali apa-apa. Pertemuan dengan Luna mengajariku sesuatu, begitu pula dengan Sera. Dan, bukankah sebatas itu makna segala pertemuan?

Sejujurnya, aku tidak tahu Luna benar-benar akan datang atau tidak. Tapi, tadi kulihat bulan kuning samar di luar, kelihatan lebih kecil dari yang kulihat di stasiun—dan ini kuanggap sebagai tanda aku akan bertemu dengan perempuan itu lagi. Entah sejak kapan aku memercayai hal-hal irasional, tapi toh ini semua cukup menghiburku. Aku tak begitu menganggapnya serius, kendati aku amat berharap bisa bertemu dengannya di sini.

LUNA MEMOTONG rambutnya, tapi hanya itu yang berubah pada dirinya. Ia masih sama dengan Luna bertahun-tahun lalu. Ada rasa canggung dan sungkan, tapi aku tahu aku harus menyapanya. Kami sudah tidak berkomunikasi lama sekali, dan bisa saja ini kesempatan terakhirku menemuinya.

“Rambutmu sekarang pendek, ya.”

Ia menoleh padaku, kelihatan sedikit kaget, dan berusaha mengendalikan rasa grogi. “Ya, aku memangkasnya. Kau tahu, bekerja di kantor pemerintahan membuatku harus serbarapi. Kalau kubiarkan panjang, nanti acak-acakan.”

“Bagaimana kabarmu?” Aku bertanya untuk memecah suasana dingin di antara kami. Aku tak ingin menanyakan alasan kepindahannya sebab aku menghargai keputusan itu—ya, walau kuakui aku sempat kecewa, terutama karena ia tak pernah membalas pesanku.

“Baik, kurasa. Kau sendiri? Perjalanan ke timur mengasyikan?”

“Aku sempat tersesat,” Aku tersenyum, “Tapi justru itu yang membuatnya menyenangkan.”

Ia terdiam. Barangkali ia kaget betapa sudut pandangku bisa berubah selekas itu setelah sekian lama tak bertemu. Aku rasa ia menduga banyak peristiwa yang telah terjadi padaku, sebab tanpa itu semua, aku pasti masih jadi orang paling keras kepala yang ia kenal.

“Kadang-kadang, hidup tak sesuai rencana itu menyenangkan juga, ya. Sebab ada hal-hal tak terduga yang mengejutkan. Aku bisa memahami kenapa dulu kamu begitu kukuh supaya aku mengejar impian. Kita tak pernah tahu jika kita tak pernah mencoba, kan?”

Baca Juga:  Alusi

Aku meliriknya. Ia masih diam. Aku jadi berpikir apakah aku salah bicara. Tapi, aku tahu aku harus jujur padanya, bahwa ia mengajariku sesuatu, bahwa aku pernah menyukainya, kendati aku tahu ia hanya menganggapku kakak laki-laki yang menyebalkan dan sulit diberi tahu. Aku harus jujur padanya, sebab dengan cara inilah ia akan berhenti menghantuiku, dan aku bisa menjalani pernikahan dengan tenang. Ya, aku harus jujur. Sekarang.

“Luna, sebenarnya sejak awal aku menyukaimu,” ujarku, pada akhirnya.

“Tapi aku tidak seberani itu. Aku terlalu takut mengambil risiko. Aku takut kehilangan pertemanan kita hanya karena cinta kekanakan. Ternyata, tanpa itu semua, aku tetap kehilanganmu. Takdir memang lucu. Aku jadi belajar bahwa hidup memang tak selalu bisa dikalkulasi,” lanjutku.

“Aku tahu ini kedengaran bodoh. Tapi, aku yakin kita dipertemukan di sini agar aku bisa jujur. Agar tak ada lagi yang mengganjal.”

“Aku tidak tahu,” ujar Luna, pelan. Ia kelihatan lebih sedih dari sebelumnya, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Barangkali ketakutanku selama ini benar: perasaan kekanakanku akan merusak segalanya. Sejak awal, ia tak pernah menyukaiku dan aku sudah menerima itu.

“Tidak apa-apa. Ini pasti mengejutkanmu. Aku sudah tahu dan aku sadar diri.” Aku menghela napas sejenak.

“Oh ya, kau tahu, saat aku tersesat di perjalanan, aku bertemu seseorang.”

“Siapa?”

“Orang itu sekarang jadi istriku. Hidup memang penuh kejutan, ya.”

PERTEMUANKU DENGAN Luna membuatku yakin bahwa ia hanyalah masa lalu yang tak perlu kusesali. Ia jelas-jelas tak memiliki perasaan padaku, karena itulah ia bisa dengan mudah pergi dan tak mengabariku. Baginya, aku hanyalah teman sekantor yang tak sengaja ia temui di kereta komuter. Selama berteman dengannya, aku menyadari, aku tak begitu mengenalnya. Ia begitu dekat, sekaligus begitu asing. Luna—dan perasaanku padanya—akan tetap menjadi misteri bagiku. Seperti bulan kuning di stasiun.

Dan, sebaiknya aku tak perlu memaknai ini semua terlalu dalam.**

Ditulis oleh Resna Anggria Putri, 2018

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here