buku dan depresi
(Bustle.com)
dibaca normal 3 menit

MENGATASI depresi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat berada dalam episode depresi, segalanya seperti mengecil dan gelap. Kadang, merasa berada di sumur dalam tanpa dasar. Cahaya terasa jauh. Tak ada suara. Hanya kegelapan dan kesunyian akut. Jantung berdebar tak karuan. Lalu, suara dari kepala muncul dan mulai mengutuk-ngutuki diri sendiri.

Ini kurasakan dalam beberapa hari belakangan. Aku tidak mampu keluar kamar. Terkapar di kamar untuk beberapa lama. Kadang duduk-duduk dengan pikiran kosong. Mulai terjebak dalam rokok dan alkohol hanya untuk lari sejenak dalam perasaan akut. Aku tidak bisa bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang menghakimi saat aku bercerita. Saat aku mencoba mengoneksikan kembali ke dunia luar, aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku berpura-pura semua baik-baik saja. Namun sejatinya, kesuwungan menyelinap pelan-pelan melalui lubang jantung yang menganga.

Saat episode itu muncul, aku mulai kepikiran untuk membaca buku. Namun, sejatinya untuk memulai membaca buku tidak mudah. Untuk beranjak dari kamar saja susah, apalagi membaca buku. Jelas tidak mudah.

Ada satu momen tertentu ketika jiwaku bilang, “Ini saatnya kamu mulai kembali membaca buku.” Kali pertama mereka berbisik, aku menolak. Kali kedua, aku masih mengelak. Mereka berbisik berkali-kali—meski ada bisikan lainnya yang tak kalah kuat. Aku pun mulai memberanikan diri membaca.

Aku memilih secara acak buku apa yang aku bakal kubaca. Namun, sejatinya, alam bawah sadarku menuntun pada karya-karya Haruki Murakami. Ketika aku memilih Murakami, kondisi mentalku sedang di fase tersedih karena kehilangan segalanya dalam satu waktu. Sempat ragu karena Murakami terkenal depresif. Namun, saat aku mulai memberanikan diri membaca kalimat demi kalimatnya, aku sedikit lega. Aku tidak sendirian.

Baca Juga:  Penulis vs Penerbit: Siapa yang Harus Mengalah?

Tokoh-tokoh yang diceritakan Murakami setidaknya mempunyai kesamaan nasib dengan apa yang kurasakan. Misalnya ketika ia menulis perasaan tokoh “aku” dalam novel terbarunya Killing Commendatore (2018): “I felt helpless, as if I’d lost my footing in the darkness.” Aku merasakan hal yang sama.

Perasaan senasib dengan tokoh “aku” di buku itu membuatku tidak merasa sendirian. Apalagi, permasalahan yang kuhadapi dan tokoh “aku” dalam novel hampir mirip: kehilangan—meski tentu saja ada perbedaan konteks masalah.

Si tokoh “aku” melakukan perjalanan dari Tokyo hingga ke Hokkaido, bagian utara Jepang. Ia melakukannya hanya untuk mengatasi kesedihannya dan perasaan depresi lantaran kehilangan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Tiba-tiba saja ia memutuskan mengendarai Peugeot 205 tanpa tujuan. Seketika itu pula, aku mulai mengikuti perjalanan si tokoh “aku” untuk mengetahui bagaimana tokoh tersebut mengatasi kesedihan dan depresi yang ia alami.

Aku juga membaca karangan Murakami lainnya, yakni “Kino”—cerita pendek yang cukup panjang. Dari cerpen itu, aku juga mendapatkan sesuatu. Tokoh Kino mencoba lari dari depresi dan kesedihan yang ia alami. Ia keluar dari pekerjaan dan membuat bar kecil di gang sempit. Kino menekan habis-habisan kesedihannya sampai ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakan.

Suatu kali, dalam bahasa metaforis, bar berubah, kesuwungan menyergap, kucing yang sebelumnya selalu meringkuk di pojok menghilang, dan beberapa ular masuk ke rumahnya. Ia kemudian memutuskan untuk menutup sementara barnya dan bepergian tak tentu arah. Menginap di satu hotel dan ke hotel lainnya. Kenyataannya, semua itu tidak bisa menghilangkan kesedihannya. Ketegaran yang coba ia ciptakan luluh lantak. Kino harus mengakui—kepada jiwanya yang terdalam—bahwa ia memang terluka, sangat dalam. Pengakuan yang selama ini ia hindari. “Yes, I am hurt. Very, very deeply. He said this to himself. And he wept.”

Setelah membaca dua karya itu, aku merasa memiliki teman dan aku tidak merasa sendirian berada di dunia yang kelam ini. Aku mulai memberanikan diri untuk mengakui bahwa aku memang terluka, sangat dalam.

Baca Juga:  Ferdinand Wiggers; Pesakitan Ambtenaar yang Jadi Redaktur Ternama

Buku telah membantuku mengatasi depresi. Membantuku untuk menjelaskan apa yang kurasakan dan mengembalikan detak jantungku dan helaan napasku sedikit normal. Buku membantuku untuk terhubung kembali dengan dunia luar.

Kata novelis Jon McGregor—yang kukutip dari The Guardian, “Karya fiksi yang baik bisa membantu kita untuk belajar cara memandang dunia dan berhubungan dengan orang lain; bisa mengajari kita berempati. “And I’m pretty sure that empathy is very good for wellbeing,” ujarnya.

Namun, buku tentu bukan antidepresan. Buku semacam pelengkap untuk membantu kita mengatasi depresi. Yang terpenting, ketika kamu merasa depresi dan kamu tidak bisa membaca buku atau melakukan hal lainnya, itu juga tidak apa-apa.

Kamu bisa menghubungi psikolog atau klinik kesehatan mental saat depresi sudah dalam tahap akut. Terapi dari kalangan profesional sangat membantu bagi kita untuk menjejakkan kaki kita kembali ke tanah.

Saat kamu merasa depresi dan kamu membaca tulisanku, kamu sebenarnya tidak sendirian. Kamu sangat berharga.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Bila kamu mengalami depresi yang akut, sudah mengganggu kehidupan sosial, dan sudah bertendensi untuk bunuh diri atau kamu melihat keluarga, teman, orang terdekat dengan kondisi demikian, kamu disarankan menghubungi psikolog maupun klinik kesehatan jiwa.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here