laila lalami
(Foto: Salisbury Post)
dibaca normal 6 menit

Lima tahun selepas The Moor’s Account (2014), Lalai Lalami—finalis Pulitzer 2015—menelurkan novel terbarunya, The Other Americans. Di novel terbarunya itu, ia terus konsisten mengangkat tema soal imigran, terutama di Amerika Serikat.

Kecenderungan ini tentu bukan tanpa sebab. Laila sendiri merupakan seorang imigran—meski bukan imigran lantaran negara asalnya kacau karena perang atau minta suaka politik.

Ia kali pertama datang ke Amerika pada musim panas 1992. Saat itu, tujuan awal Laila ke Amerika untuk menjalani studi linguistik di University of Southern California, Amerika. Namun, kehidupan memang kadang berjalan tak seperti rencana. Ia bertemu seorang Amerika, saling jatuh cinta, dan menikah. “Sekarang, aku seorang imigran,” tulisnya dalam kolom opini di The New York Times.

(Gambar: lailalalami.com)

Kembali ke novel terbarunya. The Other Americans bercerita tentang kematian imigran Maroko di Mojave, Kalifornia. Novel ini mendapat sambutan positif dari berbagai surat kabar ternama. The Guardian, misalnya. Surat kabar Inggris ini menulis bahwa Laila dalam novel ini dengan brilian menggambarkan—baik terlihat maupun tak terlihat—sesuatu yang selama ini kita tolak, yakni bagaimana kehidupan pribadi dan politik menjerat seluruh hidup kita.

Tak hanya The Guardian, World Literature Today menyebut The Other Americans sebagai novel yang menegangkan untuk dibaca. Laila, tulis World Literature Today, lewat novelnya telah berhasil menganalisis kehidupan Amerika kontemporer dengan cerdas. Terkadang, kritikannya begitu menggigit.

Nah, di sela-sela peluncuran buku The Other Americans pada pertengahan Maret lalu, kepada The New York Times, Laila Lalami berbagi cerita tentang kegemarannya membaca buku. Mulai dari buku-buku yang membentuk dirinya seperti sekarang ini hingga buku yang sedang dibaca dan akan dibaca. Berikut petikan wawancara yang diterjemahkan BooksandGroove.com.

Buku apa saja yang sedang kamu baca sebelum tidur?

Milkman karya Anna Burns. Novel yang cerdas dan mengasyikkan tentang seorang perempuan muda yang dipaksa menikah dengan laki-laki berkuasa. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama yang kaya sekaligus penuh humor gelap.

Selanjutnya, ada beberapa tumpuk buku nonfiksi. Freedom in the Family: A Mother-Daughter Memoir of the Fight for Civil Rights karya Tananarive Due and Patricia Stephens Due; Birthright Citizens: A History of Race and Rights in Antebellum America karya Martha S. Jones; Gunfighter Nation: The Myth of the Frontier in Twentieth-Century America karya Richard Slotkin; dan The Paranoid Style in American Politics karya Richard Hofstadter.

Sebab, aku sudah menjadi warga negara Amerika sejak 20 tahun lalu, aku jadi tidak bisa berhenti belajar sejarah negara yang aku anggap sebagai rumah baruku. Aku merasa sejarah merupakan dialog masa kini dan masa lalu. Tiap kali aku kebingungan dengan peristiwa masa kini—yang terlalu cepat berganti—aku akan menengok masa lalu untuk memahami.

(Foto: The Cherch Life)

Buku terbagus yang terakhir kamu baca?

Malcolm X: A Life of Reinvention milik Manning Marable. Buku biografi tokoh hak sipil yang tulis dengan luar biasa, teliti, dan cermat. Buku itu dipenuhi dengan detail langka kehidupan masa kecil Malcolm di Nebraska, situasi keluarga yang berantakan selepas kematian ayahnya dan gangguan saraf ibunya, masa penahanan di Massachusetts, serta perubahan identitas pribadi dan pandangan politik dalam dua dekade berikutnya. Tak ada buku lain yang bisa kurekomendasikan selain buku itu.

Baca Juga:  Hikayat La Florida - Laila Lalami

Ada novel klasik yang baru saja kamu baca?

Their Eyes Were Watching God yang baru saja kubaca lima tahun lalu dan membuatku jatuh cinta pada Zora Neale Hurston. Aku langsung terpesona dengan matanya yang bisa menangkap detail, penggunaan bahasa resmi dan sehari-hari yang teliti, serta kedalaman perspektif dalam narasinya. Sejak itu pula, aku membaca banyak prosa dan esainya. Dia adalah pemikir independen.

Aku suka biografi Zora yang ditulis Valerie Boyd, Wrapped in Rainbows. Aku juga baru membeli salah satu buku Zora, Barracoon. Buku tentang seseorang yang selamat dari kapal perbudakan terakhir.

Buku apa yang kamu baca saat menulis buku dan buku apa yang kamu hindari?

Aku membaca buku apa saja yang relevan (untuk bukuku), baik untuk isi, sudut pandang, maupun gaya. Ketika aku menulis The Moor’s Account yang berdasarkan kisah nyata penjelajah Afrika pertama di Amerika, aku banyak membaca novel sejarah, buku sejarah Maroko abad ke-16, kisah epos tentang penjelajahan bangsa Spanyol di Amerika, serta penelitian tentang suku asli Florida dan sekitarnya.

(Foto: Etsy)

Saat menulis buku baruku, The Other Americans, yang menceritakan kematian imigran Maroko dan memengaruhi keluarganya serta Kota Mojave tempat ia tinggal, aku membaca kembali buku-buku favoritku. As I Lay Dying, William Faulkner dan Paradise, Toni Morrison.

Aku juga membaca beberapa novel yang berlatar Amerika abad ke-19 hingga 20 (Run River, Joan Didion, misalnya), novel kriminal (Paris Trout, Peter Dexter; dan Lush Life, Richard Price), novel perang (Billy Lynn’s Long Halftime Walk, Ben Fountain), serta novel tentang identitas (A Feather on the Breath of God, Sigrid Nunez; dan The Sympathizer, Viet Thanh Nguyen).

Aku sangat beruntung bisa bekerja sambil membaca buku-buku bagus. Tuhan, aku begitu menyukai apa yang kukerjakan sekarang.

Baru-baru ini, hal menarik apa yang kamu dapat dari buku?

Dari novel Aminatta Forna, Happiness, aku baru tahu bahwa sebagian rubah beradaptasi dengan kehidupan perkotaan. Di London, misalnya, mereka bertahan hidup dengan mencari makan di tong sampah atau memangsa hewan peliharaan di halaman belakang yang terkadang membuat kepanikan massal.

Dan, dari cerpen “Everything the Mouth Eats” yang ada di kumpulan cerita A Lucky Man. Aku belajar, ternyata capoeira Brazil bukan semacam bela diri biasa, tapi sesuatu yang lebih. Raga dan jiwa serta musik menyatu bersama.

Yang membuatmu terharu dalam karya sastra?

Aku kerap terharu dengan suara-suara yang benar-benar menggetarkan jiwa. Mereka membuatku merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang sangat berbeda dengan diriku.

Semakin dewasa, aku juga tersentuh dengan deskripsi tentang persahabatan dan kebaikan yang sebenarnya sangat susah ditulis dalam halaman-halaman buku ketimbang kekejaman dan pengkhianatan.

Baca Juga:  Gabriel Garcia Marquez: “Selama Tidak Ada Revolusi, Aku Akan Terus-Menerus Hidup dalam Ketakutan”

Buku apa yang akan kamu rekomendasikan untuk seseorang yang ingin mengetahui Maroko?

Karya Mohamed Choukri yang kutemukan di umur 15 tahun. Buku itu seperti wahyu. Novel pertamanya Al-Khubz al-Hafi berdasarkan kehidupannya dari masa kecil hingga masa remaja. Buku itu dilarang pemerintah Maroko, namun salinannya ada di sekolahku di Rabat.

Ada juga buku menarik lainnya yang ia tulis tentang persahabatannya yang susah dan berat dengan Paul Bowles yang telah diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Telegram Books, In Tangier.

Penulis lainnya yang kubaca saat remaja dan sangat memengaruhiku adalah Fatema Mernissi, seorang feminis sekaligus sosiolog. Beberapa bukunya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, seperti The Veil and the Male Elite: A Feminist Interpretation of Women’s Rights in Islam” dan “Dreams of Trespass: Tales of a Harem Girlhood.

Mana yang kamu suka: kertas atau elektronik? Satu buku sekaligus atau selang-seling? Pagi atau malam?

Kertas. Buku konvensional lebih intim ketimbang buku digital. Aku suka memegangi fisik buku, aroma buku baru, dan aku bisa menggarisbawahi kalimat-kalimat indah atau detail yang tidak biasa.

Aku punya beragam cara berinteraksi dengan buku fisik. Aku pernah melempar buku karena membuatku frustasi dan marah. Dan, buku konvensional bisa menyimpan kenangan. Misalnya, suatu hari aku bisa membaca kembali novel dan menemukan tanda yang dibuat putriku saat ia baru berusia 4 tahun. Buku digital takkan bisa menggantikan hal-hal seperti itu.

Bagaimana kamu mengatur buku-bukumu?

Secara alfabet, seperti seorang maniak (buku). Aku kerap memindah-mindah buku di ruang tamu untuk memberi ruang untuk novel-novel baru.

Nonfiksi disusun berdasarkan kategori—memoar, kritik, sejarah, peristiwa masa kini, dan riset untuk tulisanku. Novel grafis tanggung jawab suamiku. Ia tak menyusun secara alfabet, tapi hafal semua tempat buku-bukunya. Buku puisi di tempat kerjaku. Dengan begitu, aku bisa meraih ketika aku butuh inspirasi.

(Les malheurs de Sophie)

Buku terbaik yang kamu dapat sebagai hadiah?

Cetakan pertama Les Malheurs de Sophie yang diberikan suamiku sebagai kado ulang tahun beberapa tahun lalu. Sejak kecil, aku membaca hampir semua yang dapat kutemukan di the Bibliothèques Rose et Verte — the Fantômette series, the “Famous Five” series, the “Secret Seven” series. Namun, buku-buku karya Comtesse de Segur yang menampilkan seorang anak yang selalu terkena masalah selalu menjadi favoritku, seperti Diloy le Chemineau, Les Petites Filles Modèles. dan Les Malheurs de Sophie.

Karakter pahlawan favorit dan penjahat favorit?

Don Quixote, karena hidup terlalu singkat hanya untuk mendengarkan sebuah penjelasan. Terkadang, kamu harus terperangkap dalam kincir angin.

Jenis pembaca seperti apa saat kamu kecil? Buku anak-anak yang paling kamu sukai?

Rakus. Orang tuaku tidak kuliah, tapi mereka pembaca dan kerap membawaku ke perpustakaan dan toko buku. Aku tumbuh di rumah penuh buku. Buku turut membantu kami mengalihkan perhatian. Sebab saat itu, hanya ada satu stasiun televisi di Maroko dan dikuasai pemerintah. Jadi, aku menghabiskan tiap akhir pekan dan musim panas hanya membaca buku.

Baca Juga:  Orhan Pamuk: Turki Seharusnya Tidak Perlu Khawatir Punya Dua Jiwa

Komik menjadi bacaan favorit pertamaku. (Tintin, Astérix, Boule et Bill). Dari situ, aku jadi suka cerita petualangan, kriminal, roman, dan epos sejarah. Itu bertahan hingga remaja. Lalu, aku membaca sastra kontemporer. Membaca Leila Abouzeid, Tahar Ben Jelloun, Naguib Mahfouz, Hanan al-Shaykh, Tayeb Salih, dan lainnya.

Kalau kamu bisa memberi satu buku untuk dibaca Presiden, buku apa itu?

First Things First karya L.G. Alexander. Buku pelajaran yang digunakan di kelas bahasa Inggris saat aku duduk di kelas 10. Ada tata bahasa dasar, penggunaan, dan cara berbahasa santun. Juga terdapat banyak gambar besar yang indah-indah.

Jika kamu menyelenggarakan malam sastra, siapa tiga penulis—yang masih hidup atau yang sudah meninggal— yang bakal kamu undang?

Toni Cade Bambara, Edward Said dan James Baldwin. Ketiganya adalah penulis yang bisa kuajak mengobrol berjam-jam soal sastra, kritik, dan perubahan sosial.

Buku apa yang awalnya kamu suka, tapi ternyata mengecewakan?

A Sport and a Past Time karya James Salter. Tokoh utamanya sangat tak bisa ditoleransi, terlalu erotik dan membosankan. Aku jijik dengan penggambaran tokoh perempuan yang dijadikan objek seksualnya.

Yang membuatmu membaca buku berikutnya? Misalnya dari Review atau perbincangan dari mulut ke mulut, referensi dari teman, buku untuk riset? Apa tergantung dengan suasana hati atau kamu menjadwalkan sebelumnya?

Saat aku membaca buku untuk hiburan, aku memilih buku dengan acak. Bisa karena rekomendasi teman atau ulasan buku menarik atau ramai di media sosial.

Tapi, saat membaca untuk menulis, aku lebih hati-hati. Aku sangat percaya dengan saran bacaan dari editorku di Pantheon, Erroll McDonald, yang bahan bacaannya sangat fenomenal dan selalu punya saran yang bagus untukku.

Rencananya, kamu bakal baca buku apa lagi?

No Turning Back: Life, Loss, and Hope in Wartime Syria karya Rania Abouzeid, Our Women on the Ground suntingan Zahra Hankir, Gingerbread karya Helen Oyeyemi, Free Food for Millionaires karya Min Jin Lee, dan The Nickel Boys karya Colson Whitehead.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here