Abimanyu
dibaca normal 5 menit

AKU PUNYA teman. Abimanyu namanya. Tubuhnya tak terlalu tinggi, kira-kira sepuluh senti lebih tinggi dariku, agak berisi, rambutnya ikal dibiarkan gondrong sebahu. Lelaki itu suka mengenakan kemeja kebesaran dan sepatu kets andalan yang sudah kumal. Kumisnya tipis dan sepertinya rutin dicukur. Senin sampai Jumat, ia selalu naik kereta komuter tepat pukul lima pagi dari Pasar Minggu, kendati jam masuk kantor pukul tujuh tiga puluh. Lebih baik begitu daripada telat, katanya.

Kali pertama bertemu Abimanyu, kukira ia orang yang tak peduli pada apa pun, sebab wajah dan penampilannya mengesankan demikian. Kami kerap berpapasan di peron Tanah Abang, sama-sama menenteng buku. Tentu, kami sontak menyadari keberadaan masing-masing; tak banyak orang yang mau membaca di tengah sesaknya manusia di kereta Ibu Kota. Ia berpenampilan cuek, dengan rambut yang dikuncir asal-asalan. Pernah suatu hari, ada ribut-ribut antara seorang ibu dan remaja perempuan di gerbong yang kami naiki, barangkali perkara memperebutkan kursi seperti biasanya. Lelaki itu kelihatan masa bodoh di antara orang-orang yang mengamati kekisruhan bak tengah menonton opera sabun. Matanya tetap fokus pada buku yang ia tenteng beberapa hari belakangan, To Kill A Mockingbird. Tak sedetik pun ia mengalihkan perhatian, seolah ribut-ribut itu tak menarik baginya. Setidaknya, begitulah yang ia kesankan pada awal pertemuan kami.

Berkali-kali berpapasan, aku tak pernah menyadari bahwa Abimanyu adalah teman sekantor, walau beda anak perusahaan. Yang aku tahu, kami sama-sama turun di Palmerah, dan ia langsung melesat, berbaur dengan keramaian, lalu hilang entah ke mana. Aku baru tahu ia satu kantor denganku saat aku tak sengaja berpapasan dengannya di dekat kantin. Dari tatapannya kala itu, aku merasa kami memikirkan hal yang sama: oh, orang yang kerap satu gerbong denganku di kereta! Sejak pertemuan itu, kami resmi bersahabat, dan ia adalah satu-satunya orang yang selalu bisa kuandalkan untuk jadi teman bercerita.

Abimanyu tak secuek yang kupikir sebelumnya. Sebaliknya, ia adalah orang yang amat memperhitungkan segala hal. Ia tidak berani memutuskan sesuatu sebelum merancang kalkulasi ini dan itu, membuat hidupnya jadi amat stagnan. Ia kerap mengeluhkan rumitnya kehidupan orang dewasa, bagaimana ia tak bebas menjadi diri sendiri karena diikat oleh berbagai ketakutan dan tekanan sosial. Misalnya saja, ia harus mengorbankan impiannya menjadi penulis, kemudian terkungkung dalam pekerjaan yang sebenarnya tak terlalu ia suka. Ini menyebalkan, sebab Abimanyu memiliki dua dari tiga rumus untuk menggapai impian, yakni minat dan bakat. Sayang, keduanya tak akan berguna apabila kita tak memiliki rumus satunya, keberanian. Ia terlalu takut meninggalkan pekerjaannya, takut kalau-kalau ia malah jadi penulis yang gagal lalu jatuh miskin.

Suatu hari, saat aku dan Abimanyu tengah makan sore bersama, aku mengusulkan supaya ia mengundurkan diri saja dari perusahaan.

“Kupikir kau harus mengundurkan diri,” ujarku sambil menyeruput es kopi.

Baca Juga:  Kereta Tua

“Kau tahu aku tak seimpulsif itu, kan?”

“Ya, aku tahu dan aku paham. Tapi, aku juga tak bisa menerima jika bakatmu harus terkubur dalam-dalam. Kau amat berbakat, Bima.” Aku menatapnya lekat-lekat, sementara Abimanyu hanya menunduk tak nyaman. Aku tahu ia sedang menghindari perbincangan ini.

“Kau ini kelewat naif. Realistislah sedikit. Ini yang namanya kehidupan orang dewasa. Pilihan kita semakin lama semakin mengerucut. Tak ada yang bisa kita lakukan, selain pasrah dan mengikuti tuntutan sekitar. Bagaimanapun, kita hidup di dalam sistem. Kita tak bisa berdiri sendiri. Maka, kita tak boleh gegabah. Salah langkah sedikit, kita bisa mati.”

“Kedengarannya kau hanya mencari justifikasi untuk ketakutanmu.”

“Aku tidak tahu kau hidup di belahan bumi bagian mana, Luna. Tapi, yang aku tahu, di belahan bumi tempat aku tinggal, kami harus pragmatis untuk bisa bertahan hidup. Tak ada waktu untuk dongeng-dongeng kekanakan.”

Aku ingin tergelak mendengarnya. Dongeng kekanakan, katanya. Ia bukan orang pertama yang mengatakan hal itu. Kebanyakan orang yang mengenalku memang berkata aku hidup dalam dunia khayalan, tentu dengan nada penuh canda. Mendengar itu diucapkan dengan raut yang tegang dan amat serius justru membuatku menahan tawa.

“Kalau kau begini terus, kau tak akan pernah maju.” Aku merapikan rambutku yang acak-acakan. Angin sore itu cukup kencang untuk membuat anak rambutku mencuat ke mana-mana.

“Masa bodoh. Selama pekerjaanku sekarang belum membunuhku, aku tidak akan pergi. Titik.”

“Kau ini, keras kepala sekali.”

“Memangnya kau tidak?”

Kami tertawa bersama, kemudian membereskan dompet dan ponsel yang terserak di meja. Sudah pukul lima, saatnya kami pulang. Gedung-gedung kantor di sekitar menghitam dan semakin menyerupai bayangan, membelakangi sorot matahari sore yang agak menyengat. Kawanan burung liar hilir mudik di langit, dari kejauhan persis seperti mosaik hitam. Sore itu, seperti sore-sore lainnya, amat biasa. Tapi, bukankah hal-hal biasa semacam itu yang paling dirindukan di hari tua?

LIMA BULAN kemudian, justru aku yang memutuskan untuk mengundurkan diri. Aku sengaja menghindar dari Abimanyu, dan sebisa mungkin mengatur jadwal berangkat dan pulang kantor agar tidak satu kereta dengannya. Aku tidak ingin mengaku bahwa aku menyerah pada “nasib” sebagai anak seorang pensiunan pegawai negeri, yang tentunya memikul tanggung jawab untuk meneruskan itu. Ini semacam kesepakatan tak tertulis. Suka atau tidak suka, begitulah realitasnya. Kau tahu, di negaraku, masih banyak yang mengglorifikasi status sebagai pegawai negeri, dan aku bukan salah satunya.

Berbeda dengan Abimanyu, pekerjaanku di kantor sebelumnya adalah pekerjaan impianku: merekrut orang-orang yang potensial untuk bekerja di perusahaan. Ini konyol dan memalukan. Aku yang begitu berapi-api—bahkan setengah merengek—merayu Abimanyu supaya mengejar impiannya, malah lebih dulu menyerah. Benar kata orang, bicara memang jauh lebih mudah. Saat dihadapkan pada situasi dilematis, aku pun tak berdaya.

Terakhir aku bertemu dengan Abimanyu, ia sedang merencanakan perjalanan jauh ke timur. Supaya tidak terlalu pusing dengan pekerjaan, ujarnya. Tentu, ia ingin segalanya berjalan sempurna. Ia memastikan tak ada yang kurang sejak jauh-jauh hari, mulai dari tiket, tempat menginap, hingga daftar lokasi yang akan ia kunjungi. Tak lupa, ia membaca-baca ulasan tempat makan yang enak dan murah, mengontak beberapa sanak yang kebetulan tinggal di sana, serta membuat estimasi biaya seakurat mungkin. Kadang, aku iri dengan keteraturan dalam hidupnya, tak sepertiku yang begitu mudah menentukan sesuatu, kemudian melupakannya begitu saja. Seperti kali ini: aku menyerahkan surat pengunduran diri pada atasan, lalu melaluinya dengan mudah tanpa pikir panjang. Sebenarnya aku sedikit sedih meninggalkan mimpiku, juga Abimanyu. Tapi tak apalah. Inilah kehidupan orang dewasa. Aku harus bangun dari dongeng-dongeng manis yang kuciptakan sendiri.

Baca Juga:  Controleur Wiggers

Aku berjanji tak akan menyesali keputusanku.

AKU TAK SENGAJA bertemu lagi dengan Abimanyu di pameran lukisan Puritip Suriyapatarapun, pelukis asal Thailand. Aku lupa bahwa kami memiliki kesukaan yang sama, dan keputusan mendadakku untuk datang adalah hal yang cukup kusesali. Aku amat menghindarinya sebab bertemu dengannya hanya membuatku semakin rindu pada kantor lama, rindu pada pekerjaan impian, dan tentu saja rindu pada perbincangan sore hari di kantin kantor. Begitu banyak pesan singkat darinya yang kuabaikan. Ada yang bernada marah sebab aku tak mengabari kepindahanku. Ada pula yang bernada sedih, sebab ia tak menemukan teman bicara yang menyenangkan lagi. Sedikit terlintas perasaan bersalah, namun aku hanya ingin melenyapkan semuanya. Entah kenapa aku begitu geram. Apa sebenarnya aku hanya berlari dari perasaan sedih dan kehilangan?

“Rambutmu sekarang pendek, ya,” ujarnya, memecah keheningan yang amat membuat canggung.

“Ya, aku memangkasnya. Kau tahu, bekerja di kantor pemerintahan membuatku harus serbarapi. Kalau kubiarkan panjang, nanti acak-acakan.” Aku tak berani melihat matanya.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku terdiam sejenak. Kukira ia akan menyergapku dengan segala pertanyaan terkait kepindahanku, atau menyalahkanku karena aku menghilang begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. Aku sudah menyiapkan berbagai alasan supaya ia bisa memahami situasiku. Ternyata, ia malah menanyakan kabarku.

“Baik, kurasa. Kau sendiri? Perjalanan ke timur mengasyikan?”

Ia memandangi salah satu lukisan. Matanya bergerak dari atas ke bawah, kanan ke kiri, terlihat merenungi pesan yang ingin disampaikan sang pelukis. “Aku sempat tersesat.”

“Tapi justru itu yang membuatnya menyenangkan,” katanya sambil tersenyum.

“Kadang-kadang, hidup tak sesuai rencana itu menyenangkan juga, ya. Sebab ada hal-hal tak terduga yang mengejutkan. Aku bisa memahami kenapa dulu kamu begitu kukuh supaya aku mengejar impian. Kita tak pernah tahu jika kita tak pernah mencoba, kan?”

Aku mengangguk pelan, tak bisa berkata apa-apa.

“Luna, sebenarnya sejak awal aku menyukaimu.”

Mendengar itu rasanya lututku terasa lemas dan bisa saja aku terjatuh di tempat. Kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal ini, setelah dua tahun aku mencoba menyangkal perasaanku padanya. Aku tidak tahu ia menyukaiku, sebab ia selalu memperlakukanku seperti adik kecil yang rewel dan sukar. Tidak, ia pasti mengada-ngada. Ia hanya rindu karena aku sudah lama hilang dari hidupnya.

Baca Juga:  Malam Itu, Kota Ini Kembali Lagi seperti di Masa Lalu…

“Tapi aku tidak seberani itu. Aku terlalu takut mengambil risiko. Aku takut kehilangan pertemanan kita hanya karena cinta kekanakan. Ternyata, tanpa itu semua, aku tetap kehilanganmu. Takdir memang lucu. Aku jadi belajar bahwa hidup memang tak selalu bisa dikalkulasi.”

Aku masih terdiam, tak percaya. Bagaimana bisa ia sekarang mengatakannya begitu saja, dengan mudah, dan seolah tanpa rencana? Ke mana perginya Abimanyu yang selalu memperhitungkan segala sesuatu itu?

“Aku tahu ini kedengaran bodoh. Tapi, aku yakin kita dipertemukan di sini agar aku bisa jujur. Agar tak ada lagi yang mengganjal.”

“Aku… tidak tahu.” Hanya itu yang bisa kusampaikan padanya. Mulutku kelu.

Kami mulai bergerak untuk mengamati lukisan lainnya. Di hadapan kami, terpajang lukisan piano dengan tuts-tuts berwajah manusia, datar dan tanpa ekspresi. Kami saling pandang, sama-sama sepakat bahwa ini adalah karya terbaik Puritip.

“Tidak apa-apa. Ini pasti mengejutkanmu. Aku sudah tahu dan aku sadar diri.”

Aku hanya tersenyum, lalu mencoba menatap lekat-lekat lukisan di hadapan, walau pikiranku melayang jauh entah ke mana. Aku benci suasana ini dan rasa-rasanya ingin segera mengakhiri kecanggungan di antara kami. Entah ke mana keakraban itu meluap pergi. Ah, betapa waktu bisa dengan mudah menggerus segalanya.

“Oh ya, kau tahu, saat aku tersesat di perjalanan, aku bertemu seseorang,” lanjutnya.

“Siapa?”

“Orang itu sekarang jadi istriku. Hidup memang penuh kejutan, ya.”

Pandanganku langsung tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Seketika itu aku memutuskan untuk membuang perasaanku jauh-jauh. Abimanyu sudah menemukan orang yang benar-benar ia cintai, dan sekarang giliranku tercengang, dipermainkan nasib.

“Luna, kau baik-baik saja?”

Aku tersenyum kecut.

Ya, hidup memang penuh kejutan. Dan, beginilah kehidupan orang dewasa.

Ditulis oleh Resna Anggria Putri, 2018

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here